Masih Mungkinkah Terjadi Letusan Seperti Tambora dan Krakatau? ( Merapi???)

infodejava | 21:12 | 0 komentar

 Apakah di bumi ini masih ada kemungkinan gunung meletus sekuat letusan Tambora
atau Krakatau ? Ataukah bumi sudah mendingin sehingga letusan besar
sudah tidak akan terjadi lagi ?
Logikanya sih sepertinya OK saja, karena memang bumi ini mendingin
sejak terbentuknya dulu, sehingga “mungkin” letusan besar tidak akan
terjadi “lagi”. Hmm tetapi spekulasi seperti ini juga berbahaya. Mari
kita dengar pendapat ahli geologi yang lain.


Apa komentar ahli kebumian Indonesia ?


Pak Yatno salah satu dosen dari ITB mengatakan ” Letusan
sebesar Krakatau ataupun Tambora masih sangat mungkin terjadi. Letusan
besar seperti itu tidak ada kaitannya dengan suhu bumi yang mendingin.
Letusan katastropis (ultra Plinian) berhubungan dengan akumulasi tekanan
yang salah satu faktornya adalah komposisi magma yang semakin asam
sehingga mengental dan menyumbat lubang kepundan
.”

Pak Hill Gendoet di forum IAGI-net menambahkan “Setuju
dengan pendapat pak Yatno…selain itu juga perlu diperhatikan durasi
lama hidup dan waktu istirahat gunung apinya…disini waktu istirahat
g.api berhubungan dengan pengumpulan energi atau pengakumulasian
faktor-faktor energi dalam usahanya untuk membongkar penutup kawah
bahkan bodi kerucut bagian atas g.apinya. Waktu istirahat bisa mencapai
ratusan tahun bahkan ribuan tahun (Ferari, 1995)…. tampaknya waktu
istirahat panjang tersebut bukan umur kita, namun secara statistik apa
ada gunung api di Indonesia yang sdh beristirahat selama itu (?), nah
itu yang perlu kita cari atau tanyakan ke mas Igan dan Zen…..he he..ke
pak Surono langsung ya. Durasi itu kemungkinan juga berujung kepada
perilaku magma yang selalu menjadi lebih asam (Bowen series).


Pak Awang yang tiap hari berkutet dan belepotan minyak juga memberikan pandangan ini secara terinci dibawah ini.
Bumi memang mendingin secara gradual, tetapi sampai sekarang pun,
dari bukti-bukti pengukuran GPS, lempeng-lempeng masih bergerak. Artinya
adalah bahwa meskipun Bumi semakin mendingin, ia masih cukup panas
untuk mempunyai sirkulasi material di mantel dan inti luarnya. Implikasi
ini adalah bahwa bencana yang berhubungan dengan gerak lempeng seperti
gempa dan letusan gunungapi masih bisa terjadi, termasuk yang
katastrofik seperti erupsi Krakatau atau Tambora.
Khusus Krakatau, kita cek saja geologi dan sejarah letusan atau
penelitian yang pernah dilakukan di sini, sejak zaman Verbeek (1885),
dua tahun setelah letusan katastrofiknya (1883) sampai penelitian2 para
ahli gunungapi Indonesia seperti Pak Tikno Bronto, Pak Yatno, Pak
Gendoet, Pak Igan, dan yang lainnya. Kita juga harus melihat situasi
tektonik tempat gunungapi itu muncul.
Berdasarkan rekonstruksi terbaru (misalnya dari Robert Hall,
1995-2003), Selat Sunda tempat Krakatau muncul, belum ada sebelum 10
juta tahun yang lalu. Selat ini berkembang dalam 10 juta tahun terakhir.
Sebelumnya, Jawa masih terikat dengan Sumatra dalam arah yang mirip
Sumatra yaitu BL-Tenggara. Kalau Jawa sekarang arahnya B-T, itu karena
lepas dari Sumatra dalam 10 juta tahun terakhir kemudian terputar
melawan arah jarum jam. Perpisahan Jawa-Sumatra ini membuka Selat Sunda,
sehingga tidak mengherankan mengapa Selat Sunda menyempit di timurlaut
dan melebar ke arah baratdaya, ini adalah efek rotasi anti-clockwise
dengan titik rotasi (pivot point) di sebelah timurlaut. Yang menyebabkan
Jawa terpisah dari Sumatra adalah majunya Australia ke arah utara di
ujung Busur Banda. Apakah rekonstrksi ini benar ? Mungkin benar, seperti
dibuktikan oleh pengukuran radiometric dan paleomagnetik beberapa
batuan Paleogen-Neogen di Jawa yang dilakukan oleh Ngkoimani et al.
(2006) yang menyimpulkan bahwa separuh Jawa bagian timur dulunya
berlokasi lebih selatan daripada posisinya sekarang.

Sebuah rotasi Jawa yang anticlockwise dan Sumatra yang juga terputar
clockwise (Barber et al., 2005) akan mengharuskan sistem retakan di
Selatan Sunda sebagai retakan berorientasi BD-TL. Dan, sistem retakan
ini telah dijadikan jalur lemah munculnya rentetan gunungapi di Selat
Sunda dari Sebesi di selatan, Sebuku di tengah sampai Raja Bassa di
utara. Gunung Peucang dan intrusi linear dykes di sepanjang pantai timur
Pulau Panaitan harus dipandang sebagai bagian jalur ini. Dan, adalah
Verbeek (1885) yang pertama kali menyebutkan bahwa Krakatau sebenarnya
terletak di titik perpotongan dua jalur : jalur Sumatra yang BL-Tenggara
dan jalur Selat Sunda yang BD-TL. Verbeek juga menulis dalam laporannya
bahwa aktivitas panjang Krakatau disebabkan lokasinya yang merupakan
focus injeksi magma, yang juga mempengaruhi bentuk dapur magmanya.
Karena posisi tektonik Krakatau tidak berubah dalam 10 juta tahun
terakhir ini, maka aktivitas erupsi yang sama yang pernah terjadi pada
1883 dan sebelumnya tak mungkin tak terjadi lagi. Hanya tingkat
letusannya yang harus kita cermati.
Bila ditelusuri riwayatnya, seperti banyak gunungapi lainnya,
Krakatau punya sejarah panjang periode dormant (istirahat) dan
erupsinya. Suatu siklus besar dalam kehidupan gunungapi bermula dengan
tumbuhnya kerucut permukaan dan berakhir dengan keruntuhan sebagian
puncak ini membentuk kaldera. Krakatau telah mengalamai dua siklus besar
jenis ini.

Krakatoa sebelum meletus 1883

Krakatoa sebelum meletus 1883
Siklus pertama Krakatau dimulai pada masa pra-sejarah, dan mungkin
berakhir pada abad ke-5 Masehi. Selama siklus ini, sebuah kerucut
andesitic terbangun sampai ketinggian sekitar 2000 meter -ini tentu
disimpulkan dari rekonstruksi berdasarkan shattered remains-nya
-sisa-sisa hancurannya. Ketinggian ini lebih dari dua kali ketinggian
Anak Krakatau sekarang. Diameter kerucut ini sekitar 15 km di dasarnya,
sekitar setengah ukuran Gunungapi Merapi di utara Yogyakarta. Kaldera
selebar 10 km mengakhiri daur ini dan menyisakan bekas2nya berupa empat
pulau : Verlaten (Sertung), Krakatau (Rakata), Lang (Rakata Kecil) dan
Police Hat.
Uniknya adalah bahwa seorang peneliti bernama Judd (1888)
menghubungkan berakhirnya siklus pertama Krakatau ini dengan “Pustaka
Raja” sebuah buku berbahasa Jawa kuno yang menceritakan sebuah letusan
dahsyat di sebelah barat Jawa. Terjemahan uraian dalam Pustaka Raja
adalah “Dalam tahun 338 Syaka (416 M) sebuah bunyi Guntur terdengar dari
pegunungan Batuwara (sekarang disebut Pulosari di utara Banten), yang
kemudian dijawab oleh bunyi Guntur yang yang sama berasal dari gunung
Kapi (Krakatau ?), yang terletak di sebelah barat Banten. Api besar yang
menyala mencapai langit keluar dari Kapi, disertai oleh hujan badai.
Suaranya begitu menakutkan, dan akhirnya gunung Kapi dengan raungan
dahsyat hancur berkeping-keping.” (ditulis ulang dari Simkin dan Fiske,
1983).
Siklus kedua Krakatau dimulai ketika sebuah kerucut basalt yang kaya
olivine muncul di tepi tenggara kaldera siklus pertama. Tinggi Krakatau
saat itu 800 meter. Kemudian letusan-letusan berikutnya telah bergeser
mengikuti jalur utara-baratlaut membentuk kerucut-kerucut Danan dan
Perboewatan yang terbuat dari material andesitic kaya hipersten.
Laporan-laporan dari pelayaran di Selat Sunda menyebutkan bahwa
Perboewatan muncul pada 1680 dengan ketinggian yang lebih rendah dari
Krakatau. Seperti juga terjadi di kaldera Tengger saat ini, maka
gunung-gunung di dalam kaldera akan semakin kecil semakin muda, dan yang
paling kecil berlokasi di titik geseran paling ujung.

Lukisan letusan 1883

Lukisan letusan 1883
Siklus kedua ini berakhir pada hari Senin 27 Agustus 1883 pukul 10.00
(Simon Winchester, 2000)dalam sebuah letusan paroxysmal yang terkenal
itu, yang juga melenyapkan Perboewatan, Danan, dan setengah badan
sebelah utara Krakatau. Saat itu langsung terbentuk kaldera sedalam 300
meter yang berisi air laut. Pengukuran hidrografik setelah masa letusan
berakhir menunjukkan bahwa kaldera siklus kedua ini hampir sama
dimensinya dengan kaldera siklus pertama, tetapi ia memanjang agak ke
selatan baratdaya, menunjukkan runtuhan dapur magma mengikuti struktur
regionalnya.
Siklus ketiga bermula ketika Anak Krakatau (Krakatau yang kita kenal
sekarang) muncul pada suatu pagi pada tahun 1927 (van Bemmelen, 1949).
Sang Anak tumbuh dengan cepat, jauh melebihi kecepatan pertumbuhan
makhluk hidup mana pun, yaitu sekitar 5 meter per tahun (Willumsen,
1997). Anak Krakatau saat ini dibangun oleh material basaltic. Kapan
siklus ketiga ini akan berakhir, mengikuti sejarah ayah dan kakeknya,
maka ia akan meletus hebat ketika material magmanya sudah menjadi asam.
Mungkin letusannya tak akan sehebat tahun 416 atau 1883, tetapi dengan
makin padatnya penduduk sekitar pantai Banten dan Lampung; maka jumlah
korban potensial bisa lebih besar daripada letusan 416 dan 1883.
Penelitian para ahli gunungapi Belanda van Bemmelen (1949), Verbeek
(1885) dan G.A. de Neve (1981) – de Neve adalah kawan senior saya sesama
pemburu buku loakan di Cihapit Bandung 1977-1980 -ternyata saya juga
akhirnya jadi seorang geologist seperti de Neve, saat itu saya anak SMP
yang haus buku tetapi tak punya uang sehingga bisanya hanya membeli di
loakan sedangkan de Neve adalah seorang gurubesar geologi…hm sedikit
nostalgia-berhasil merekonstruksi kimia magma semua siklus dormant dan
erupsi Krakatau. Mereka menyimpulkan bahwa Kompleks Krakatau selalu
mulai dengan magma basalt, maju ke andesite, dan meletus hebat secara
paroxysmal ketika magmanya menjadi asam (riolitik). Menurut rekonstruksi
mereka (dikompilasi dengan sangat baik oleh Willumsen, 1997), letusan
hebat Kakek Krakatau pada 416 M (?) terjadi saat komposisi magma
riolitik mencapai Kadar SiO2 70 %, begitu juga dengan erupsi Krakatau
1883 yang meletus hebat saat komposisi magma mencapai 70
% SiO2.

Anak Krakatau

Anak Krakatau saat ini
Nah, si Anak Krakatau ini agak lain – plottingnya tak mengikuti kakek
dan ayahnya -mungkin datanya lebih banyak; yang jelas Anak Krakatau
sejak lahirnya pada tahun 1927 sampai sekarang tak pernah mencapai
komposisi magma riolitik (> 65 % SiO2). Saat letusannya pertama
terjadi pada tahun 1930 ia ada di level SiO2 62 %. Tahun 1960 bahkan
magmanya berdiferensiasi menjadi basaltic dari andesit, sekarang tengah
andesit. Saat level SiO2-nya sudah mencapai 65 % di situlah mulai
membayang letusan paroxysmal. Melihat kecenderungannya, mungkin ini akan
terjadi masih jauh dari sekarang, paling tidak tak sampai 100 tahun
dari sekarang.
Begitu kalau mengikuti kimia magma, tetapi Verbeek (1885) dan Judd
(1888) punya teori unik tentang mengapa Krakatau 1883 meletus begitu
hebat. Mereka percaya bahwa air laut yang merembes ke kantong magma
telah berperan dalam hal ini. Air ini akan menaikkan tekanan. Magma naik
akibat tekanan tambahan dari air ini. Magma yang naik ini akan
menggerogoti akar kerucut volkanik di atasnya sampai badan kerucut
gunungapi menipis seperti seperti selaput saja. Ketika selaput gunungapi
ini runtuh, laut akan punya akses masuk ke kantong magma dan
menyebabkan erupsi besar yang melemparkan pumis (batuapung).
Kalau kakek Krakatau benar meletus pada 416 M sesuai Pustaka Raja,
dan kita tahu Krakatau 1883 meletus sama hebatnya pada 1883, maka
terbentang periode selama 1467 tahun. Dalam masa itu terjadi
diferensiasi magma Krakatau dari riolit-andesit-basaltik-andesit-riolit.
Bila kimia magma satu-satunya kunci ke letusan paroxysmal, maka periode
letusan paroxysmal Anak Krakatau mungkin akan terjadi pada 1883 + 1467 =
tahun 3350. Ini tentu hitungan di atas kertas dan menyederhanakan
sekali banyak hal serta menggunakan banyak asumsi yang semuanya bisa
salah besar seketika.
Yang penting adalah amati terus kimia magma Anak Krakatau. Hati-hati
saat ia di ujung andesitic dan mau masuk ke riolitik. Kapan itu akan
terjadi kita tak tahu sebab pengetahuan kita begitu tak sempurna
sementara Mother Earth punya banyak misteri.

sumber: http://rovicky.wordpress.com

Category:

About GalleryBloggerTemplates.com:
GalleryBloggerTemplates.com is Free Blogger Templates Gallery. We provide Blogger templates for free. You can find about tutorials, blogger hacks, SEO optimization, tips and tricks here!

0 komentar