Next Memory of KKN Sampang Aengsareh ( by Nindy Retnasatiti )

infodejava | 22:53 | 3 komentar

Tepat di hari yang sama ketika saya pulang untuk kali pertama, program KKN yang saya pegang dilaksanakan. Lomba Menggambar dan Mewarnai. Target jumlah peserta memang nggak terpenuhi, tapi saya lega acaranya berjalan lancar berkat kerja sama teman-teman dan pihak sekolah yang kooperatif. Tema lomba adalah "Cita-citaku".

Coloring02
Coloring01


Karena pada dasarnya saya suka menggambar, jadilah saya berkeliling mengamati gambar anak-anak itu satu persatu. Masalah menghampiri ketika nyaris sebagian besar peserta menggambar nggak mau menggambar sesuai tema dengan alasan tidak bisa. Seorang guru berinisiatif memberikan arahan pada para peserta dengan memberikan gambaran cita-cita yang seperti apa yang bisa digambar, di mana contoh cita-cita yang beliau ambil adalah profesi guru dengan frame gambar papan tulis, guru mengajar dan siswa--suasana di dalam kelas. Alhasil mayoritas siswa pun menggambar sesuai dengan arahan yang diberikan guru tersebut. Padahal visi saya mengadakan lomba ini bukan untuk itu, saya ingin anak-anak itu menuangkan apa yang ingin mereka kerjakan ketika dewasa nanti.


Coloring03

sempat diliput media lokal, Radar Madura

Mirisnya lagi, ketika saya mendekati seorang anak perempuan yang keukeuh menggambar pemandangan konvensional: gunung, sawah, matahari. Kelihatan sekali dia sudah terlatih menggambarnya dan bisa dibilang motorik halusnya baik sekali. Saya tanya, "Adek punya cita-cita nggak?" Dia menggeleng sambil berujar, "Nggak." Saya bener-bener terkejut mendengarnya. Lalu saya tanya lagi, "Kalo udah gede adek mau jadi apa?" Dia masih belum menjawab, saya lanjutkan, "Dokter?" dia masih diam dan menggeleng pelan, "Guru?" dia menggeleng juga. Melihat pakaian yang ia kenakan, asumsi saya dia anak orang yang cukup berada. Tapi yang saya sayangkan adalah absennya imajinasi, mimpi dan sekali lagi, cita-cita yang ada dalam pikirannya.

Ke mana mereka semua?


Saya dekati lagi seorang anak perempuan yang kebetulan duduk di sebelahnya, ia sudah hampir menyelesaikan gambarnya yang setipe dengan teman di sebelahnya. Saya rayu dia dan akhirnya mau mulai menggambar lagi di kertas yang baru dengan tema yang lebih sesuai. Namun begitu waktu habis, saya kembali padanya dan yang saya temukan adalah gambar yang sama yang tadi ia kerjakan. Ketika saya tanya ke mana gambar dokter yang tadi ia kerjakan, dia bilang, "Nggak bisa gambar dokter." Karena itulah dia memutuskan menggambar hal yang lebih ia kuasai. Semudah itu dia menyerah, dan setelah saya lihat secara menyeluruh alasan-alasan semacam itulah yang mendasari gagalnya tema perlombaan untuk direalisasikan. Padahal saya ingin tahu, anak-anak yang tinggal di pedesaan ini punya mimpi yang seperti apa untuk negara ini. Saya nggak menilai bagus atau tidaknya gambar yang dihasilkan sebagai poin utama sejujurnya, saya menilai kreativitas mereka dan apa yang ingin mereka capai dalam hidup ini. Sekalipun mereka hanya menggambar petani, selama itu sesuai dengan tema dan poin penilaian, tentu saya akan memberi nilai lebih. But apparently, nobody draw farmer as their dreams.

Dari sini saya jadi berpikir, apakah ini potret anak-anak Indonesia yang sebenarnya? Apakah mimpi hanya dimiliki anak-anak kota? Awalnya saya pikir saya akan menemukan banyak gambar petani dalam hasil karya anak-anak itu, karena itulah profesi paling familiar yang mereka ketahui selain guru. Saya bener-bener menyayangkan bahwa gambar pemandangan konvensional itu turun temurun dari masa saya masih TK hingga sekarang sudah jamannya iPad, frame gambar seperti itu masih eksis. Mungkin orangtua perlu menghentikan mengkotak-kotakkan imajinasi anak, saya yakin ide untuk menggambar yang seperti itu merupakan 'ide' arahan orangtua. Dulu waktu saya TK, guru saya nggak mengarahkan saya menggambar pemandangan konvensional seperti itu. Mereka hanya memberikan tema "Pasar", "Perkampungan" atau "Perayaan 17 Agustus" dan sisanya adalah keputusan saya untuk mengembangkan. Indonesia nggak terbatas pada gunung, sawah dan matahari aja kan? Orangtua saya pun menyerahkan sepenuhnya pada saya untuk menggambar sesuka hati, nggak peduli gambar itu jelek atau tidak.

I just wondering, where are their dreams go?



Anyway, tiba waktunya saya kembali ke Sampang. Kebetulan waktu itu si pacar ngotot banget minta nganterin dan rupanya anak-anak melihat kesempatan emas dengan datangnya saya bersama si pacar. Baru sampai dan belum nurunin barang-barang, seisi rumah udah siap mau pergi. Ke mana? Ke Pantai Camplong. Ya, ternyata nggak perlu nungguin sampai akhir KKN saya akhirnya mendarat juga di Pantai Camplong.

Pacar dan mobilnya pun mengangkut teman-teman sekamar saya plus Tantu (temen sefakultas saya juga) ke destinasi utama saya selama di Sampang :D
Camplong01

Camplong
, pasirnya memang nggak seperti bayangan saya, agak kecoklatan tapi masih lebih terang dibanding di Kulbung. Area pantainya lebih luas dan untuk pertama kalinya saya melihat mercusuar. Belum lagi matahari waktu itu sedang mempersiapkan diri untuk terbenam di ufuk barat, bersebelahan tepat dengan si mercusuar. Cantik! :D


Camplong02

Oh yeah, pastinya kaki saya masih dalam keadaan kritis saat ke Camplong. Jadi saya nggak bisa puas-puasin diri nyemplungin kaki atau merasakan lembutnya ombak membasahi kaki. Kaki saya harus tetap kering, terutama yang kiri. Beruntung si pacar ikut, karena saya ke pantai pakai sepatu dan rasanya nggak enak pake sepatu di atas pasir pantai yang basah jadi saya bolak-balik harus pegangan lengannya biar nggak terpeleset. Memang asisten yang sempurna dia! ;]


Camplong03

ketemu Ninda temen sefakultas yang KKN di kecamatan sebelah, Torjun

Suatu waktu di minggu terakhir KKN, saya juga sempat mengunjungi Camplong lagi. Kebetulan waktu itu malam hari dan bulan sedang purnama. Saya ke sana dengan misi untuk melihat laut ketika pasang. Bikin takjub melihat laut malam hari waktu bulan purnama, di mana Sampang juga nggak segemerlap Surabaya. Pencahayaan masih minim sehingga lautan kelihatan terang, langit nggak hitam ketika bulan bersinar terang sekali. Karena bulan purnama, air laut pun naik cukup tinggi. Wilayah kering di mana saya dan teman-teman lari-larian, foto-foto dan jalan-jalan kemarin itu tertutup air sepenuhnya sampai batas si pacar memarkir mobilnya.


Menjelang minggu terakhir, program KKN memang sudah habis. Saat itu proyek dari pemerintah datang. Proyek? Proyek apaan? Tenang, proyeknya bukan agenda pengaspalan jalan atau bikin mall. Ceritanya Sampang lagi merayakan hari jadinya, sehingga pemerintah mengadakan karnaval yang temanya musik tradisional dan anak-anak KKN diminta berpartisipasi dengan mengirimkan 2 wakil masing-masing kelompok untuk mengenakan pakaian adat Madura. Dan dari kelompok saya, yang berhasil menjadi Kacong dan Cebing wanna-be adalah si Bram dan Ayik :D


Karnaval04

Bram, moi, Ayik :D

Karnaval02

Endah temen sefakultas yang KKN di desa sebelah ikutan jadi 'korban' hihi

Diminta juga 10 orang lainnya untuk menjadi pengiring, saya nggak mau ketinggalan dong pastinya. Target foto bakalan melimpah! Meski saya juga nggak ada bayangan kayak apa nanti karnavalnya. Well, singkat cerita, saya harus berjalan entah berapa km dengan kaki kiri yang belum sepenuhnya pulih hingga akhirnya menimbulkan lecet di sepanjang bawah jari kari. Man, it was so hurt! Tapi saya seneng banget bisa ikut karnaval di negeri orang, gila-gilaan bareng anak-anak and it was just damn fun! :D

Karnaval01

Lilla diminta ngasih sambutan sama MC-nya


Karnaval03

Waktu saya sms nyokap saya ikut karnaval, saya malah dimarahin awalnya. Dikiranya saya iseng ikutan yang aneh-aneh, beliau masih trauma gara-gara kaki saya sobek kemarin itu. Tapi setelah saya jelasin beliau mengerti. Well, Mom, kalau nggak iseng begini, saya nggak bakal tau apa-apa di Sampang ;] Seru, seru, seruuuuuuuuu! Seru-seruan yang kayak gimana? Saya nggak bisa jelasin dengan kata-kata. Beruntung saya berada dalam tim yang semuanya asik buat diajak gila, yang semuanya punya jiwa fun dan tukang jalan-jalan. Nggak nyesel deh pernah setim bareng kalian, guys! :D

More stories tomorrow, stay tune!
:] 
based on true story by Nindy Retnasatiti
 

Category:

About GalleryBloggerTemplates.com:
GalleryBloggerTemplates.com is Free Blogger Templates Gallery. We provide Blogger templates for free. You can find about tutorials, blogger hacks, SEO optimization, tips and tricks here!

3 comments:

  1. banggaku bisa berkunjung kesini sambil belajar... semoga saya akanterus kesini...
    saya tak menyangka dapat belajar dari blog ini. salam blogger makassar. klu bisa
    berika tutorial yang untuk para newbie.saya baru saja mengembangkan dunia blogging.

    ReplyDelete
  2. makasih mas atas apresiasinya,sama mas mari belajar bersama saya juga masih newbie bgt. .:D

    ReplyDelete
  3. deb iki awakmu seng KKN ta? kok seng nulis dudu awakmu??

    ReplyDelete